70 KK Terisolir di Sirkuit Mandalika, Pelita: ITDC Harus Ajak Warga Duduk Bareng

0
205
70 KK Terisolir di Sirkuit Mandalika, Pelita: ITDC Harus Ajak Warga Duduk Bareng
Foto: Anggota DPRD NTB H Lalu Pelita Putra.(dok. pribadi)

MATARAM, KanalNTB.com – Lebih dari 70 Kepala Keluarga (KK) saat ini masih terisolir di areal Sirkuit Mandalika. Hal ini terus menjadi perhatian berbagai pihak sementara Sirkuit akan segera digunakan sebagai ajang bergengsi dunia. Yakni, event World Superbike (WSBK) yang akan dihelat dalam waktu dekat dan juga MotoGP di tahun 2022.

Anggota DPRD NTB dapil 7 yang meliputi Kabupaten Lombok Tengah bagian Selatan, H.Lalu Pelita Putra meminta agar pihak ITDC memerhatikan kesejahteraan warga Dusun Ebunut, dan Ujung Lauq di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah yang terisolir akibat dampak pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika.

Baca Juga: Jabatan TGB di Komisaris Utama BSI Dinilai “Hadiah” Hasil Kerja Politik Pemenangan Jokowi

Menurut Politisi PKB itu, puluhan kepala keluarga itu siap menyukseskan pembangunan gelaran MotoGP di tahun depan. Hanya saja, komunikasi yang intensif belum dilakukan oleh pihak ITDC. Padahal, jika diberdayakan warga itu adalah aset pendukung yang menguntungkan pihak ITDC.

“Saran saya ITDC harus mengajak warga duduk bareng sebagai keluarga besar. Ini karena warga siap menyukseskan gelaran MotoGP Mandalika, tapi memang ada komunikasi yang terputus yang perlu diurai lagi agar nyambung,” kata Pelita pada wartawan melalui telpon selulernya, Kamis (26/8).

Ia mengaku, keberadaan puluhan warga Dusun Ebunut dan Ujung Lauq di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, telah berlangsung secara turun temurun sebelum proyek MotoGP di KEK Mandalika dikerjakan seperti sekarang ini.

Oleh karena itu, penghargaan atas keberadaan mereka yang menjaga kawasan itu harus juga diperhatikan.

“Kalaupun kawasan tempat tinggal warga di Ebunut tidak akan dijadikan proyek MotoGP. Tapi, karena lokasi mereka berada di kawasan, alangkah indahnya untuk dilakukan penataan. Sehingga, ada kebanggaan warga memiliki tanah kelahirannya. Inilah sub sistem yang saling mendukung itu,” tegas Pelita.

Menurut Pelita, penataan Dusun Ebunut dan Ujung Lauq di Desa Kuta, Kecamatan Pujut juga  bisa dilakukan dengan menjadikan pemukiman warga sebagai homestay yang representatif bagi wisatawan yang akan menonton event balapan dunia tersebut.

Hal itu menyusul, para wisatawan yang menonton balapan MotoGP, tidak semuanya memiliki kantong tebal untuk bisa menginap di hotel berbintang di kawasan KEK Mandalika.

“Maka dari itu, pilihan dengan memberdayakan potensi masyarakat Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauq dengan mendirikan homestay dirasa pilihan yang memanusiakan warga. Harapannya, penataan kawasan tanpa menggusur rakyat menjadi solusi menjadikan warga setempat sebagai sub sistem pendukung suksesnya gelaran MotoGP Mandalika tahun 2022 akan bisa terwujud kedepannya,” jelas Lalu Pelita Putra.

Sebelumya, perwakilan warga Dusun Ebunut, Desa Kuta, Kecamatan Pujut menemui Gubernur NTB Zulkieflimansyah membahas solusi pembebasan lahan hingga akses jalan keluar masuk warga yang terisolir di sirkuit.

Pada pertemuan yang  dihadiri Polda NTB, Kapolres Lombok AKBP Hery Indra Cahyono, Sekda NTB Lalu Gita Ariadi, Kepala Bakesbangpoldagri NTB Lalu Abdul Wahid, dan tokoh masyarakat setempat. Sayangnya, belum ada solusi konkret terkait nasib mereka.

Di mana, terowongan atau tunnel 2 sirkuit menjadi satu-satunya akses jalan sampai saat ini. Sayangnya, terowongan tersebut kerap digenangi air.

Bahkan jika mesin pompa terowongan mati, air akan naik hingga setinggi leher orang dewasa.

Sibawaih, warga Dusun Ujung Lauq, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mengatakan, solusi akses jalan sudah disiapkan melalui tunnel atau terowongan.

Tetapi terowongan yang disiapkan belum layak dilalui sehingga warga terisolir. “Saya juga terisolir karena saya berada di bibir pantai dan harus melalui sirkuit itu sendiri,” katanya, usai bertemu gubernur, Senin (23/8) lalu.

Jumlah warga yang masih terisolasi di dalam lintasan sirkuit lebih dari 50 KK. Di samping itu juga ada warga yang di luar lingkaran lintasan.

Dari Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauq, Desa Kuta, sehingga ada sekitar 84 KK yang masih bertahan.

Damar, warga Dusun Ebunut mengatakan, mereka yang masih tinggal di dalam sirkuit dibuatkan akses jalan yakni di terowongan atau tunnel 2.

“Untuk saat ini, mau tidak mau kita harus melewati terowongan seperti biasa, tapi yang jelas pemerintah akan mendorong agar ITDC memperhatikan itu agar tidak tergenang air,” katanya.

Sebab jika mesin pompa terowongan tersebut mati, terowongan tersebut akan tergenang air. “Kalau mesinnya mati otomatis airnya naik setinggi leher,” katanya.

Kalau air naik, truk atau tronton pun tidak bisa melintasi terowongan tersebut. “Airnya setinggi leher,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, warga tidak bisa melintasi terowongan. Sampai akhirnya warga menjebol pagar besi pembatas sirkuit sebagai akses masuk.

“Opsi kami terakhir ya menjebol pagar besi yang dibangun pihak pengembang,” katanya.

Atas persoalan itu, warga sudah mendatangi kantor PT ITDC, mereka sanggup akan mengeringkan. “Syukur beberapa hari ini, tiga hari ini sudah bisa dilewati,” katanya.

Karena itulah warga datang ke kantor gubernur NTB, tujuan utamanya “Karena rasa keprihatinan sesama masyarakat yang terisolir di dalam sirkuit, karena kalau musim hujan itu otomatis banjir,” katanya.

Posisi lahan tersebut sudah jauh lebih rendah dari Sirkuit Mandalika.


Pewarta: Punk

Editor: Hmn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here