Dikes NTB Bantah Adanya Dugaan “Pengkovidan” jadi Penyebab Tingginya Angka Pasien Covid 19

0
360
Dikes NTB Bantah Adanya Dugaan
Foto: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Lalu Hamzi Fikri. (dok)

MATARAM, KanalNTB.com — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Lalu Hamzi Fikri, menanggapi fenomena angka kematian tinggi covid 19 yang diduga tidak sesuai dengan fakta yang dirasakan di masyarakat. Bahkan akhir-akhir ini jumlah rata rata angka kematian setiap harinya di masyarakat cukup tinggi yang diduga akibat enggan ke Rumah Sakit karena takut dicovidkan oknum-oknum nakes┬ápadahal punya penyakit lain.

Terhadap fenomena ini menurut  Hamzi Fikri petugas sudah bekerja  sesuai dengan aturan pemerintah mengenai standar penangan pasien OTG.

“Jadi kita sudah melakukan aturan sesuai standar yang diberikan pemerintah dalam menangani pasien. Tidak bisa kita salahkan kan yang tes itu dilakukan di lab,” tukas Hamzi, Selasa (27/07) usai menghadiri acara di DPRD NTB Udayana, Mataram.

Dia juga membantah apabila ada tanaga kesehatan maupun dokter yang berani mengcovidkan pasien.

“Kita harus menghargai kerja dari dokter dan nakes mereka sudah berjuang. Jangan kita bilang seperti itu, Dan tidak mungkin mereka berani mengcovidkan,” jelas Hamzi.

Sementara itu Anggota DPRD NTB Komisi V Bukhori, juga melihat bahwa fenomena OTG yang setelah dites kemudian meninggal bisa terkena covid dipertanyakannya juga ke satgas

“Kita juga heran saja orang OTG masuk rumah sakit karena dia tokoh. Kemudian diberikan tindakan sesuai covid dengan memberikan oksigen. Banyak tokoh-tokoh kita di NTB sudah meninggal ini tidak bisa kita anggap remeh. Harus ada kerjasama semua pihak,” ujarnya.

Dari pantauan KanalNTB berkembang  dugaan di masyarakat anggapan pasien covid 19 menjadi ladang bisnis nakes, satgas, maupun petugas di daerah yang berkaitan dengan penanganan covid 19  dengan menjual atau memanfaatkan data jumlah pasien covid sebanyak banyak ke pemerintah pusat.

Ungkapan “Semakin banyak jumlah pasien yang dilaporkan maka semakin banyak  bantuan berupa anggaran yang mereka terima”. Pemahaman ini seperti nampak pada praktek oknum oknum nakes dan menjadi stigma yang kuat di masyarakat saat ini mengingat banyak pengalaman di masyarakat keluarga yang dinyatakan covid tapi banyak juga dirasakan  tidak seperti pasien covid sebagaimana digambarkan selama ini.


Pewarta: Punk

Editor: Hmn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here