King Aren Pusuk, Menata Jalan Jadi Pelopor Pengolahan Aren di Indonesia

0
237
King Aren Pusuk, Menata Jalan Jadi Pelopor Pengolahan Aren di Indonesia
Foto: Owner King Aren, Muhammad Rizadi menunjukkan hasil produk olahan aren miliknya, Rabu (15/09/2021) di Desa Pusuk Lombok Barat. (KanalNTB)

LOMBOK BARAT, KanalNTB.com — Air nira biasanya diolah menjadi minuman tuak manis atau menjadi minuman keras. Namun ada juga yang mengolahnya menjadi gula merah cetak. Sayangnya, nilai jualnya masih sangat relatif rendah, sehingga membuat para petani merugi.

Melihat ini seorang pengusaha muda, Muhammad Rizani (30) Owner King Aren mencoba berinovasi mengolah air nira menjadi gula semut dan gula sari. Olahan ini diharapkan bisa mendongkrak nilai jualnya.
Pertimbangan inovasi Rizani didasari bahwa gula sari merupakan makanan tradisional orang tua dulu sedangkan gula semut sendiri merupakan gula aren vesri bubuk sebagai pengganti gula pasir yang memiliki peluang pasar yang sangat besar, tetapi hanya saja bentuk produk ini belum banyak dilirik oleh para petani maupun pelaku usaha. Namun demikian ia yakin olahan ini lebih mempunyai daya saing dan nilai jual cukup bagus dibanding bentuknya yang sekarang.

Pertimbangan Rizani ini ternyata berhasil. Produk olahan gula sarinya lebih mendapat sambutan pasar. Ia pun mulai mengembangkan usaha dengan membuat badan usaha UD Karya Mandiri dengan brand King Aren.

Di tahun 2018 King Aren mampu memproduksi 100 kilo perbulan dan tahun 2021 mencapai 10-15 ton. Meningkatnya kapasitas produksi dikarenakan Rizani berkolaborasi bersama para petani aren dengan memberikan edukasi berupa pembinaan dan pelatihan cara pengolahan air nira aren yang baik.

” Kita bersyukur dengan ada program JPS gemilang dan JPS mantab, dapat menyerap produk kami sebanyak 10300 pcs untuk JPS Gemilang dan 8000 pcs untuk JPS Mantab, sehingga berdampak sekali pada petani di situasi covid dan memulihkan perekonomian kita,” ungkapnya.

Saat ini produknya sudah masuk pasar modern dan ada juga yang membeli curah sesuai dengan permintaan konsumen.

“Sementara ini kita masih bekerjasama dengan beberapa home industry olahan kue, coffe shop, dan restoran dengan menjualnya dalam bentuk curah. Dan untuk Pasar modern sudah ada di Niaga, Titian Hidayah, Ruby, Hipermart, Cv. Matahari, NTB Mall, toko oleh-oleh. Banyak kita sentuh ritel modern,” ungkapnya.

Sebelum usahanya besar seperti sekarang ini, Rizani mencoba mereview bagaimana Lika likunya. Menurutnya semua berawal dari beberapa permasalahan.

“Jadi usaha ini saya mulai dilatar belakangi beberapa permasalahan, pertama konflik sosial, sumber daya alam melimpah, dan nilai jual yang relatif rendah,” kisah Muhammad Rizani, Rabu (15/9).

Konflik sosial yang dimaksud ini banyak petani air nira di Jl. Raya Tanjung Rt 02 Dusun Pusuk Desa Pusuk Lestari, Kekait, Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menjual hasil panen mereka kepada pengepul. Di mana biasanya diolah menjadi minuman keras (miras). Kedua sumber daya alam yang melimpah tidak banyak dimanfaatkan, ketiga nilai jual tidak menentu bahkan merugi petani.

“Inilah yang coba kita inovasi diolah menjadi gula sari, kita minta ke Dinas Perdagangan Lombok Barat untuk bisa mendapatkan pembinaan. Setelah itu, kita diajak studi banding, belajar membuatnya menjadi produk yang memiliki nilai jual,” terangnya.

Rizani kemudian mulai membentuk UD Karya Mandiri pada 10 Oktober 2017. Dari pembinaan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab), ia mampu membuat berbagai terobosan baru pada olahan air nira.

“Tidak hanya gula semut tetapi berbagai macam produk, termasuk kopi gula aren, gula briket (gula cetak), choco (coklat) aren, kopi jahe gula aren, ada serbatnya,” tuturnya.

Tak hanya itu saja, bahkan mencoba inovasi air nira atau tuak manis menjadi berbagai macam minuman instan. Di mana dengan kombinasi berbagai macam ras, mulai dari rasa lemontea, strawberry, anggur, jeruk, nanas dan sebagainya.

“Ini bagian dari inovasi yang kita kembangkan. Termasuk pelatihan juga kita dapatkan dari Bank Indonesia NTB secara maksimal. Begitu juga pelatihan inovasi produk sehingga kita banyak inovasi produk dimunculkan,” jelasnya.

Di tahun 2019 king aren mendapatkan penghargaan sebagai wirausaha muda Syariah, 2020 ini King Aren telah lulus tahap akurasi dan masuk IFI ( Indonesia food innovation ) sedangkan 2021 telah lulus tahap akurasi dan masuk FSI.

“Beberapa waktu lalu ada 18 ton diminta oleh India, kita sudah sanggup, tahun ini 20 ton. Akan tetapi terkendala dengan harga Dan kita juga dapat suport dari dinas perindustrian dengan dibangunnya UPT skala ekspor berkolaborasi dengan para UMKM ,” ungkapnya.

Saat ini King Aren memiliki tenaga kerja 15 orang, karena situasi covid tinggal lima orang dan mengalami penurunan penghasilan.

“Sebulan dulu kita bisa dapat 300-200 juta
sekarang hanya 15 juta. Kita sekarang produksi 1 kg membutuhkan bahan baku air nira aren enam liter. Dan untuk jenis kemasan stik alatnya kita punya hanya kemasan masih dari Jogja, kemasan 250gram, 400 gram, 1 kilo, curah juga. Res harga, 700 rp – 65 ribu. Kita sudah kirim ke Palembang, Aceh, Surabaya, Jakarta , Yogya sekali ngirim paling banyak 200 peaces yang 250 gram,” ungkapnya.


Pewarta: Punk

Editor: Hmn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here