Peran Perempuan Dalam Sinetron Indonesia

0
472
Foto: dok pribadi

Oleh : Handini Rahmawati (*)


Perempuan kerap menjadi suatu hal yang menarik untuk digambarkan. Bahkan perempuan menjadi salah satu hal yang kerap menjadi perbincangan. Isu soal perempuan kerap menjadi suatu hal yang sangat menarik ketika dibahas, bahkan diangkat sebagai sebuah karya seni, termasuk di Indonesia. Permasalahan perempuan kerap kali muncul sebagai bahan pembicaraan di media, bahkan menjadi isu yang menarik ketika diangkat dalam sebuah karya seni. Permasalahan perempuan yang kerap memunculkan steorotipe kelemahan, tangisan, emosional, pemarah, pendemdam hingga saat ini menjadi suatu hal yang menarik untuk dijadikan topik dan tema.

Salah satunya pada dunia pertelevisian Indonesia khususnya sinetron (sinema elektronik), perempuan kerap menjadi obyek yang sangat menjual, permasalahan perempuan kerap menjadi topik yang menarik untuk ditampilkan, seperti halnya permasalahan rumah tangga, kegagalan pernikahan, kelemahan perempuan, bahkan tangisan perempuan menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk ditonton ataupun digambarkan kembali, objek perempuan menjadi suatu hal yang kerap berkeliaran dalam dunia pesinetronan. Fitrah perempuan yang terlahir hanya untuk menikah, hidup berumah tangga, mempunyai anak, patuh terhadap suami, menjadi hal dasar dalam penggambaran perempuan dalam sebuah karya seni visual.

Jika dilihat pemanfaatan perempuan sebagai obyek kreativitas pada sinetron Indonesia menunjukkan kesenjangan gender, masih terjadi di Indonesia, di dalam penggambarannya perempuan kerap berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, perempuan kerap terlihat berkuasa hanya dalam ruang domestik, jikalau muncul dalam ruang publik masih di dominasi oleh laki-laki. Hal ini dapat diartikan bahwa perempuan hanya diposisikan sebagai mahluk lemah, bergantung pada laki-laki dan menjadi pusat perhatian hal ini serupa dengan perempuan dalam fitrahnya, menikah, melahirkan dan memiliki kepatuhan terhadap suami. Padahal jika dilihat di masa modern saat ini sudah banyak perempuan yang berkecimpung dalam ruang publik. Berbeda halnya jikapun terdapat perempuan yang membantah, pekerja keras, emosional, berpenampilan seksi kerap dijadikan sebagai perempuan yang jahat, perebut suami orang, penggoda dan sebagainya.

Hal ini serupa dengan yang disampaikan dalam jurnal Bias Gender Dalam Sinetron Televisi yang disusun oleh Endri Listian yang mengungkapkan bahwa televisi yang menyajikan gambaran yang audio visual seolah menyajikan kehidupan sosial perempuan yang sebenarnya. Termasuk didalamnya menyajikan bagaimana karakter perempuan yang seharusnya, bagaimana perempuan seharusnya berpenampilan, bagaimana karakter perempuan yang sering ada, padahal semuanya hanya kehidupan dalam dimensi yang tidak nyata. Televisi mendefinisikan budaya perempuan hampir tak pernah lepas dari “konsep keluarga”, bodoh, tidak mandiri, lemah, dan sangat tergantung pada laki-laki. Karenanya dalam pertelevisian perempuan menjadi identik dengan kondisi perempuan bias, karena yang melekat pada gambaran itu yang sebenarnya bisa dipertukarkan. Selain informasi melalui media massa (televisi), persepsi seseorang dipengaruhi pula oleh field of experience dan frame of reference yang sudah dimilikinya mengenai stereotip yang ada pada perempuan (Listiani, 2009, 15).

Bahkan berdasarkan salah satu tulisan di media mojok.co tentang kenyataan kesenjangan gender di Indonesia. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF) dalam The Global Gender Gap Report 2020, Indonesia masih menempati posisi ke-85 dari 153 negara dalam hal gap antar gender. Sedangkan dalam Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan, menunjukan sekitar 400.000 perempuan menjadi korban kekerasan dan KDRT menjadi kasus dengan laporan terbanyak. Menghilangkan kesenjangan gender dalam suatu negara memang bukan perkara mudah. Apalagi Indonesia masih berpegang pada sistem patriarki baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, sampai bernegara (mojok.co, 2020).

Jika dilihat berdasarkan fakta yang ada maka tidak heran jika sinetron di Indonesia, lebih senang menggunakan perempuan sebagai obyek, dan kerap menjadi korban yang tersakiti, bahkan air mata perempuan menjadi suatu yang sangat menjual untuk mencari penonton, pasalnya pada kenyataan sistem patriaki masih terjadi di Indonesia, bahkan dalam kehidupan sehari hari. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan hingga saat ini terhadap salah satu sinetron yang ditayangkan di televisi swasta, yang ditayangkan dari pukul 3 sore hingga pukul 9 malam dengan judul besar “Catatan Hati Seorang Istri”. Sinetron ini menampilkan serial setiap dua jam sekali, dengan judul yang berbeda, hanya saja dari segi judul terlihat dengan jelas bahwa perempuan menjadi objek. Judul kerap berisi bahwa istri yang notabene perempuan di tempatkan menjadi objek yang tersakiti, tidak berkuasa, bahkan digambarkan sebagai perempuan yang pasrah dan suami yang notabene adalah laki laki menjadi subyek yang menyakiti, berkuasa, melakukan apapun semamunya, seperti halnya “Haruskah Ku Pasrah, Saat Suamiku Ingin Menikah Lagi”, “Aku Dinikahi Lelaki Tak Punya Hati”, “Bagi Suamiku Berkhianat Saja Cukup Untuk Membahagiakan Istri” dan masih banyak lagi.

Jika dilihat dari segi judul dapat terlihat, dan membaca bahwa sinteron ini akan bercerita tentang kehidupan seorang perempuan yang sangat sengsara, dan akan mendapat perlakuan kekerasan, bahkan dalam pernikahannya akan mendapatkan pengkhianatan dari suami, seperti perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya, dan jika dilihat dari judul, apa yang dilakukan seorang istri, yakni pasrah dan ikhlas menerima, karena kebahagiaan istri dapat dinilai dari kebahagiaan suami. Dan ini menjadi tema besar dalam setiap serial yang ditayangkan bahkan jikalau perjuangan perempuan diperlihatkan selalu digambarkan dengan perjuangan mempertahankan keluarga, sesakit apapun yang dialami.

Perselingkuhan menjadi tema yang tetap tayang dalam setiap harinya, sehingga perempuan digambarkan menjadi dua karakter, yakni karakter baik (protagonist) adalah perempuan yang berpakaian tertutup, patuh terhadap suami, merelakan apa yang diinginkan, termasuk memaafkan semua kesalahan suami. Dan yang kedua adalah pkarakter jahat atau peran antagonis, perempuan kerap digambarkan dengan perempuan yang liar, berpakaian seksi, pekerja, penggoda suami orang, emosional, pendemdam, gila harta dan sebagainya. Berbanding terbalik dengan sifat perempuan dengan karakter baik, seperti halnya penggambaran perempuan pada fitrahnya yakni berperan sebagai istri dan mengurus anak dengan penuh kesabaran serta kelembutan, bahkan pasrah dengan kekuasaan yang dimiliki suami. Sedangkan laki-laki atau suami digambarkan menjadi sosok yang dominan, bebas, penguasa, dan pengambil keputusan. Pengkarakteran seperti mewakili perempuan dapat dikatakan sebagai objek seksual laki-laki yang diperlihatkan dengan pakaian seksi, dan tidak berakhlak, bahkan menandakan bahwa fisik perempuan lebih utama dibandingkan dengan akhlak.

Bukan hanya sebagai objek seksual perempuan dalam sinetron ini juga digambarkan sebagai korban dari laki-laki, yang menandakan perempuan harus bergantung terhadap laki-laki. Kekerasan terhadap perempuan kerap ditampilkam, baik kekerasan fisik, verbal, seksual, psikis, dan ekonomi. Hal ini sebagai bentuk perempuan menjadi objek dari laki-laki yang bersifat lemah, dan hanya menjadi kepuasan laki-laki, dan apa yang bias dilakukan perempuan, sinetron ini menunjukkan perempuan hanya bisa bersabar, tak berdaya, lemah, dan menanti keajaiban datang, seperti balasan dari Tuhan. Balasan Tuhan yang kerap menjadi akhir cerita, yang dapat menyebabkan sang suami bertobat, sang perempuan menyesal, dan perempuan baik hanya bisa memaafkan. Tidak jarang diakhir cerita, sang suami kembali pada istri sah, karena maaf yang diberikan, atau sang istri menjadi janda karena sang suami, mendapatkan balasan dari Tuhan yang menyebabkan meninggal dunia.

Maka tidak heran jika (Jackson & Jones, 1998, 216) menjelaskan dalam film wanita hanya disajikan sebagai apa yang dia wakili untuk pria’. Demikianlah tubuh wanita mungkin terus-menerus ditampilkan sebagai tontonan dalam film, tetapi perempuan sebagai perempuan sebagian besar tidak ada. Foto perempuan beroperasi dalam film sebagai tanda, ia berpendapat, tetapi tanda yang mengambil maknanya bukan dari realitas kehidupan perempuan, tetapi dari keinginan dan fantasi pria. Berdasarkan hal tersebut maka tidak heran bila perempuan hanya bisa berfungsi sebagai objek narasi dan menandakan kepasifan bahkan perempuan juga berfungsi sebagai objek erotis utama dalam film.
Gambaran perempuan yang hanya menjadi objek seksual, dan korban dari laki-laki, sosok yang lemah, emosional maka akan berdampak pada citra dan steorotype perempuan di masyarakat. Yakni mnempatkan perempuan sebagai kaum lemah secara fisik, kaum yang hanya berperan sebagai pelaku peran reproduksi dan merawat anak ataupun menjadikan tubuh sebagai pusat kesadarnnya. Hal ini akan berdampak kedepannya, generasi berikutnya akan menyebabkan perempuan tidak dapat meninkatkan dirinya dalam karier maupun meningkatkan kemampuannya.Bahkan penempatan perempuan dalam posisi yang tidak menguntungkan dapat menyebabkan kesenjangan gender semakin meluas di Indonesia bahkan sistem patriaki akan semakin meningkat. Pasalnya apa yang terlihat di layar kaca kerap menngambarkan apa yang sedang terjadi dalam dunia realitas. Jika tayangan televisi khusunya sinetron Indonesia menayangkan tema seperti ini,dan menjadi peniruan pada generasi selanjutnya, yang menyebabkan pernikahan dini meningkat, kekerasan dalam rumah tangga meningkat, maka hal seperti ini sungguh miris seperti menandakan perjuangan R.A Kartini dalam memajukan kaum perempuan di Indonesia terasa sia-sia.


Kepustakaan
Listiani, Endri. 2009. Bias Gender Dalam Sinetron Televisi. Jurnal Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana. Jakarta Barat:Universitas Mercu Buana

Mojok.co (11 Maret 2020). Melihat Bagaimana Sinetron Indonesia Mencekoki Kita dengan Budaya Patriarki. Mojok.co. Sumber : https://mojok.co/terminal/melihat-sinetron-indonesia-mencekoki-patriarki/

Jackson, Stevi & Jones, Jackie. 1998. Cotemporary Feminist Theorist. Edinburgh : Edinburgh University Press.


(*) Alumni ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, Ex Jurnalis INEWS TV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here