Pokdarwis di Kecinan KLU Tunggu Bantuan Pemerintah, Terkendala Lahan Tak mampu Kelola Wisata

0
221
Penataan Destinasi Wisata Kecinan dan Sukadana Diusulkan Rp 2,5 Miliar
Foto: Pantai kecinan di Lombok Utara yang tidak terkelola. (KanalNTB)

LOMBOK UTARA, KanalNTB.com – Meski sudah ditunjang oleh alam yang bagus rupanya destinasi wisata yang berada di Dusun Kecinan Desa Malaka Kecamatan Pemenang belum mampu dikelola maksimal oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Usut punya usut keterbatasan lahan menjadi kendala, demikian diungkapkan Ketua Pokdarwis Eko Kecinan Mahbub, Senin (26/7).

Menurutnya, lahan yang ia kelola saat ini untuk menjual wisata yaitu lahan aset daerah yang dihibahkan ke desa seluas 16 are. Kendati ada 2 are lain lahan di sebelahnya masih dikuasai oleh Warga Negara Asing (WNA) asal Norwegia. Pihaknya mengharapkan jika 2 are lahan tersebut bisa dipinjampakai maka pengelolaan wisata yang ia pimpin bisa berjalan baik.

“Kami harap supaya pemerintah atau pihak desa bisa menjembatani kami untuk meminjam lahan disebelah ini. Daripada mangkrak dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Dijelaskan, lahan tersebut rencananya akan dibuat sebagai spot tempat duduk bagi pengunjung yang datang. Terlebih lokasi wisata yang ia Kelola bersama sejumlah pemuda setempat tersebut belakangan mulai naik daun. Hal ini tidak lepas dari Kementerian Desa (Kemendes) yang memberikan anggaran ke Desa Malaka untuk pembangunan Homestay empat lokal senilai Rp 400 juta disebelah lokasi. Dengan demikian diharapkan ketika homestay sudah jadi maka pemanfaatan paket wisata di lokasi bisa berjalan.

“Kalau lahannya kurang tentu kita tidak bisa apa-apa. Karena sayang sekali, ini sudah lama dibiarkan oleh pemiliknya. Kita akan manfaatkan untuk mengecat dindingnya dan sebagainya,” jelasnya.

Mahbub mengakui, selain menjual pemandangan alam pantai yang indah di lokasi tersebut juga menyuguhkan spot untuk snorkeling dan diving. Pasalnya, sejumlah biota langka seperti spesies Costasiela, Hippocampus Histrix, Commerson Frogfish justru ditemukan di sana. Spesies tersebut malah tidak dimiliki oleh perairan tiga gili. Tak ayal banyak penyedia jasa diving mengiring tamu mereka ke perairan Kecinan.

“Jenis biota laut itu malah tidak ada di tiga gili, ini yang harus dipahami dan hanya dimiliki oleh Kecinan. Selain itu ditempat kami sering dijadikan lokasi camping oleh wisatawan lokal,” katanya.

Berkembangnya destinasi wisata di Kecinan idealnya harus disupport oleh pemerintah. Belum menyangkut lahan yang ia tuntut. Belakangan Mahbub menilai pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lombok Utara justru terkesan tutup mata. Dengan perkembangan pokdarwis secara mandiri. Betapa tidak, sejauh yang ia ketahui sejak pokdarwis beridiri hingga sekarang tidak pernah ada perhatian oleh instansi tersebut.

“Kami disini tidak pernah mendapat pelatihan diving. Padahal kita di sini juga kekurangan alat, ke depan dinas harus lebih memerhatikan. Hanya ini yang bisa menunjang ekonomi kami di Kecinan ini terlebih di massa pandemi,” pungkasnya.


Pewarta: Eza

Editor: Hmn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here